Ramadhan telah berlalu dan masuklah kita saat ini di bulan Syawwal. Bulan dimana puasa sunnah 6 hari padanya setelah Ramadhan, bagaikan berpuasa satu tahun.
Ketika Ramadhan berlalu, ada dua jenis orang yang berbahagia:
Pertama, orang yang berbahagia karena dia sudah tidak harus lagi menahan haus dan dahaga, menahan nafsu dan emosinya dari terbit hingga terbenamnya matahari. Dia berbahagia karena dia tidak lagi harus menjalankan shalat tarawih yang panjang di malam hari setelah seharian penuh dia dibuat lelah dikarenakan harus menjalani aktifitas sehari-hari dalam lapar dan dahaga. Shalat tarawih yang menjadi beban setelah dia menghadiri eating party untuk berbuka. Dia merasa segala macam ibadah yang diwajibkan dan disunnahkan di bulan Ramadhan adalah beban yang meletihkan. Dan ini adalah kebahagiaan yang keliru.
Yang kedua, kebahagiaan seseorang yang selama satu bulan di bulan suci Ramadhan yang mulia ini telah memaksimalkan ibadahnya. Dia menahan lapar dan haus karena keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah. Menahan hawa nafsunya. Shalat sepanjang malam dan melantunkan firman-firman Allah. Bersedekah karena ia yakin bahwa hartanya tidak akan berkurang sedikitpun kerenaNya. Dia berbahagia ketika hari ‘Aid datang, karena dia berharap Allah menerima amalan-amalan yang dia lakukan di bulan Ramadhan hanya karenaNya. Dia berhusnuzhan kepada Allah, dan terus menerus berdo’a agar amalannya diterima. Dan ini adalah kebahagiaan yang terpuji.
Allah ta’aala berfirman,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
[QS. Ali Imran : 102]
Walaupun Ramadhan telah berlalu, namun amalan-amalan yang telah kita lakukan selama bulan Ramadhan tidak lantas berakhir begitu saja.
Shalat malam, puasa, bersedekah, menahan hawa nafsu dan melawan jiwa yang buruk, semua amalan itu tidak boleh terlepas dari amalan-amalan kita setiap hari setelah Ramadhan berlalu.
Allah ta’alaa berfirman,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu.”
[QS. Al Hijr : 99]
Beribadahlah, sampai datang kematian yang kita tidak pernah ketahui. Bisa jadi besok, satu menit lagi, atau bahkan dalam hitungan detik kedepan.
يٰٓاَيُّهَا الْاِنْسَانُ اِنَّكَ كَادِحٌ اِلٰى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلٰقِيْهِۚ
“Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya.”
[QS. Al Insyiqaq : 6]
Teruslah beribadah dan bersabarlah. Lakukan dengan konstan walau tidak banyak. Lakukan dengan penuh keimanan dan ketaqwaan sampai kita menemuiNya.
Hidup di dunia memang melelahkan, karena dunia bukanlah tempat tinggal abadi kita.
Jangan lengah setelah Ramadhan, jangan kendor.
Selama masih bernafas, ingatlah! Kita masih harus mengumpulkan bekal untuk akhirat kita dengan beramal.
Rasul –shallallahu’alaihi wasallam– dahulu bila melihat suatu perkara dunia yg membuatnya takjub, beliau mengatakan:
لبيك إن العيش عيش الآخرة
Labbaik, innal ‘aisya ‘aisyul akhirah
“Aku penuhi panggilanmu ya Allah, sungguh kehidupan yg hakiki adalah kehidupan akherat”
[HR. Bukhari 2834, Muslim 1805]
Wallaahu a’lam bish shawaab.
——-
Reference:
Addariny, Musyaffa. (2021). Sunnah Yang Terlupakan, Ucapan “Innal ‘Aisya, ‘Aisyul Akhirah”. Retrieved from https://muslim.or.id/21680-sunnah-yang-terlupakan-ucapan-innal-aisya-aisyul-akhirah.html
Kurnaedi, Abu Ya’la. (2023). Setelah Ramadhan Berlalu. Retrieved from https://youtu.be/6bo1iSZPlYU

Leave a comment